Selasa, 17 Februari 2015

Kumpulan Puisi

Aku Dan Kamu
Ada aku.
Ada kamu.
Layaknya bulan yang selalu didampingi oleh bintangnya.
Ada aku.
Ada kamu.
Layaknya sang langit yang selalu didampingi oleh awan putihnya.
Ada aku.
Ada kamu.
Layaknya sebuah surat yang selalu didampingi oleh perangko.
Tak terpisahkan.
Ada aku.
Ada kamu.
Ada mereka di sekitar aku dan kamu.
Tapi, hanya aku dan kamu yang tahu
Bahwa ada aku
Dan ada kamu.






Surat Untuk Romeo
Inilah suratku kepada Romeo :
Ini biasa saja.
Isinya tak semanis isi surat kepada Juliet
Amplop yang digunakan terlihat lusuh.
Di pojok kanan amplop melekat sebuah perangko bekas pakai.
Maafkan aku Romeo, ini tak istimewa.
Aku tahu.
Tapi kutuliskan menggunakan tinta berwarna biru, warna kesukaan mu.
Kutuliskan dengan hati yang teramat tulus, seperti apa yang kau harapkan dariku.
Kutuliskan dengan senyuman yang mungkin tak kau sadari.
Hanya rumput di padang dan udara yang bergerak menjadi saksinya.
Semua ini sederhana,Romeo.






Kupu-Kupu Malam
Ia duduk di pinggir jalan.
Bibirnya merah.
Matanya tampak lelah.
Wajahnya mulai mengering.
Ia menatap lepas jalanan kosong dengan penuh harap.
Mengharapkan rayuan mereka
Siapapun yang datang padanya, ia terima.
Tak peduli betapa jahatnya angin malam yang menerpa
Ia tetap bertahan.
Selalu begini, tiap malam.
Uang ?
Itu alasannya.
Semua butuh uang
Penyesalan ? Ada.
Tapi di akhir cerita, airmata tak ada guna.
Tak perduli masa depan, yang penting bisa makan.
Tak ada yang sederajat, katanya.
Orang lain memandang buruk, selagi ia memandang baik.
Yang lain mengeluh, selagi ia bersyukur.
Tak ada yang bisa dikeluhkan
Seandainya bisa memilih
Mungkin puisi ini bukan tentang dia







Ini Cinta
Darahku berdesir
Detak jantung tak karuan
Bibir yang keluh
Kau mengajakku bicara
Ku rasakan pupil mataku melebar
Perutku bergejolak. Kupu-kupu
Sejuk
Kau menatapku
Hatiku terasa remuk
Peluhku deras berjatuhan
Panas. Terbakar
Kau menjauhi ku
Kau harus tau tentang ini :
Bercerminlah, sayang
Lihatlah sosok yang membuatku jatuh
Terkadang aku tak mengerti
Kamu ?
Kenapa harus dirimu ?
Terkadang aku tak mengerti
Kau yang menggambar matahari
Kau juga yang melukiskan petir
Tapi aku tahu,sayang
Ini Cinta
Ya
Cinta






Para Koruptor Laknat
Awan-awan tak dapat tersenyum
Matahari,panas
Lihatlah di padang rumput sana :
Tak hijau, kering.
Kaku
Pohon-pohon tak dapat lagi bergoyang
Hanya bisa menangis
Layu
Para penjahat alam tak sadar diri
Dimakannya habis uang haram itu
Perut mereka diisi dengan kekejian
Tangan mereka menggenggam keegoisan
Tiba saatnya datang balasan
Balasan tanpa kata-kata
Sekedar tanda dari Tuhan
Tapi mereka bilang Tuhan kejam
Banjir bandang
Longsor
Lihatlah hal-hal yang tak tertembus mata batin
Lihatlah hal-hal yang tak dapat dijelaskan akal sehat
Inilah alam titipan Sang Mahakuasa
Inilah alam pijakan nyawa dan jiwa
Di sinilah kita berjuang hingga mati
Tapi bukan berarti mengorbankan alam
Apalagi hanya untuk uang haram duniawi.