Sabtu, 10 Desember 2016

SEBUAH PELAJARAN HIDUP: Jari Yang Melepuh

Suara ketukan tombol-tombol abjad saling beradu saat aku sedang menulis kisah ini. Laptop di atas pangkuanku bersinar terang sembari terus memancing otakku untuk menyusun kata-kata. Aku bersyukur dapat menyelesaikan tulisan ini walaupun dalam keadaan meringis seperti kepedisan.

   "Wah, ada pisang nih, bu.", mataku langsung tertuju pada sesisir pisang raja yang kulitnya sudah menguning dan terlihat sangat sedap saat memasuki ruangan dapur.

   "Tuh, di lemari ada tepung pisang goreng. Kalau mau digoreng, sekarang aja. Jangan ditunda-tunda. Nanti malah gak jadi..", tegur Ibu yang sedang menumbuk bawang putih untuk menumis sayur. Memang sudah kebiasaan; aku sering menunda-nunda untuk melakukan sesuatu walaupun aku bisa melakukan hal itu saat itu juga.

Aku masih belum menyentuh pisang itu. hmmm goreng gak ya?.


   "Dela...", suara Ayah dari meja makan mengalihkan perhatianku.


   "Ya?", kujawab singkat dengan alis terangkat.

   "Itu ada pisang, mending kamu bakar jadi pisang epe'... Kayak yang Ayah bikin minggu lalu itu...", kepulan asap keluar dari mulut Ayah.

   "Iya, masih ada gula merah cair sama santan di kulkas juga tuh...", sambung Ibu.

   "Jadi gak usah digoreng? Oke..", jawabku singkat karena ide Ayah tentang pisang epe' membuatku semakin ingin mencobanya. Hitung-hitung mencoba ide masakan yang mungkin untuk kebanyakan orang hanya bisa dinikmati di luar.

Singkat cerita, pisang yang belum dibakar masih ada sekitar 5 buah. Masih ada pisang yang belum selesai dibakar. Sambil digepeng-gepengkan dengan sendok, aku juga mengolesi sedikit mentega di permukaan pisang agar tidak gosong. HAH! . Ada satu pisang yang sudah agak gosong dan belum digepengkan. Karena takut pisangnya menjadi lebih gosong, dengan cepat aku segera menggepeng-gepengkannya.

PSSH!


Auuu!



Rintihan secara otomatis keluar dari mulutku. Ketidakhati-hatianku membuatku tidak sadar bahwa jariku sudah terlalu dekat panci pembakaran hingga akhirnya bersentuhan. Sekilas, hanya seperti ada tanda goresan di jariku sehingga aku mengabaikannya.


"Jarimu kenapa Del?", Ibu bertanya saat aku sedang menuang gula merah ke atas piring.

 "Anu bu, tadi kena waktu lagi bakar pisang...." aku menjawab sambil nyengir-nyengir.

 "Dasar ceroboh... Oles pake madu, biar gak berbekas..", Ibu hanya geleng-geleng kepala.

Selesai membuat pisang epe', aku menyajikannya di atas piring beserta gula merah cair dan santan. Ibu segera memanggil ayah dan kedua kakakku agar kami menikmati pisang epe' bersama di meja makan. 

      Dengan keadaan lidah yang sedang berdansa menikmati pisang epe', mataku terus tertuju ke arah luka bakar di jariku. Si Luka yang awalnya tidak melepuh, kini telah mengembung seperti balon kecil berisi air dan terasa lebih perih dari sebelumnya. Pikiranku melayang dan melihat kembali kejadian tadi; Kenapa hal ini bisa terjadi? Aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Aku bahkan berharap aku bisa mengulang waktu dan lebih berhati-hati. Namun hal ini sudah terlanjur terjadi. Aku tidak bisa mengontrol masa depanku. Sedetik yang lalu aku bahagia, sedetik kemudian aku sudah meringis karena pedihnya luka bakar di jariku.

     Aku akhirnya berpikir, Syukuri saja lah, yang penting aku bisa menyelesaikan masakanku dan bisa menikamtinya bersama keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar