Sabtu, 31 Desember 2016

Singkat.

Selasa, 22 November 2016

    Lock screen handphoneku menunjukkan angka 10.00 tepat saat dosen berjalan keluar dari kelas. Aku juga bergegas keluar dan tidak bercerita banyak dengan teman-temanku seperti biasanya karena sudah berjanji kepada kakakku bahwa aku akan langsung pulang agar kami bisa pergi nonton ke bioskop berdua. Film yang akan kami nonton adalah Fantastic Beasts and Where To Find Them. Aku, yang-bisa dibilang-adalah salah satu penggemar berat J.K. Rowling  dan dunia buatannya, tentu saja sangat bersemangat untuk melihat karya barunya itu. Pikiranku sudah melayang dan memikirkan betapa bagusnya film itu, padahal tubuhku baru saja naik ke atas angkot dan masih membutuhkan beberapa jam untuk sampai di rumah dan mungkin beberapa jam lagi hingga waktunya pergi nonton ke bioskop.

    Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang tidak hanya tentang film yang akan aku tonton, tapi juga kepada seseorang. Bioskop yang akan aku kunjungi berada di salah satu mall yang letaknya sangat dekat dengan kampusnya. Sebenarnya, sejak beberapa hari yang lalu, pikiranku sudah sering kepikiran tentang dirinya. Terutama saat kakakku sudah memastikan bahwa kami akan pergi nonton hari ini, pikiranku semakin menjadi-jadi. Aku terus membayangkan bahwa aku akan bertemu dengan dirinya di bioskop. Tapi aku tidak tau apakah hal itu akan kejadian atau tidak. Aku akui, sejak prom night SMA, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, dan sebagian kecil dari diriku memiliki keinginan untuk melihat wajahnya. Ya, hanya ingin melihat saja. Apakah ini rindu? Aku belum tau jawabannya....

     Sepanjang perjalanan, aku benar-benar tenggelam di dalam lamunan. Hingga tak terasa, aku sudah berada di rumah. Kakakku sudah mengcheck jam tayang dan kami berencana akan nonton pada jam tayang pukul 12.30. Entah kenapa, hatiku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah mungkin aku akan bertemu dengannya? Sebagian dari diriku berdoa kepada Tuhan agar jawabannya tidak, namun ternyata khayalanku untuk bertemu dengannya jauh lebih besar. Wangi masakan tempe oleh ibu di dapur membuyarkan lamunanku yang entah sudah berapa lama. "Dek, sudah siap? Ini sudah jam setengah 12. Jangan sampai kita terlambat...", suara kakakku menggema dari lantai 1. Aku melihat seluruh tubuhku; aku belum berganti pakaian sama sekali. Aku segera membuka laci bajuku dan mengambil jumpsuit setelah sejenak memilih-milih pakaian yang ada. "Dek... sudah belum? nanti kita telat...", suara kakakku kembali menggelegar dari lantai bawah. Aku hanya bisa menyisir rambutku dengan tergesa-gesa dan tidak sempat untuk memakai gelang serta chokerku. Tanpa ba bi bu aku berlari menuruni tangga dan hanya melemparkan senyum ke arah wajah kakakku yang tampangnya tidak masam tapi sangat datar dan tidak menandakan rasa senang. "Ayo cepat, makan dulu baru pergi...", Ibu memanggil sembari menaruh sayur tumis kangkung di atas meja makan. "Nanti kita telat bu...", balasku. "Sudahlah, makan saja dulu. Supaya kalian tidak usah makan lagi nanti di mall.", Ibu menjawab singkat dan menaruh 3 piring makan di atas meja. "Ya sudah, kita makan saja dulu. Kalau memang telat, kita nanti beli tiket untuk jam 1 saja... Siapa suruh kamu lama sekali..", kakakku menjawab datar. Aku diam saja dan segera menyendok nasi ke atas piring. Selama makan, pikiranku kembali melayang. Mungkinkah? Akankah? How should I be acting kalau aku ketemu sama dia? Berbagai pertanyaan random memenuhi kepalaku sehingga membuatku tidak sadar bahwa makananku di piring sudah habis. Padahal kakak dan ibu masih menyantap makanannya. Setelah mencuci piring dan sendok makanku, aku mengambil tas lalu memasukkan handphone serta barang-barang lain yang aku butuhkan. "Ayo dek. Hmm... kayaknya kita bakal telat deh..", kakakku segera berjalan keluar rumah dan aku mengikutinya. Setelah berpamitan dengan ibu, kami naik ke mobil yang segera melaju setelah aku menutup pintu. Sebenarnya jarak perjalanan ke mall yang kami tuju dari arah rumah tidak begitu jauh, namun setelah mengecheck jam, aku dan kakakku berasumsi bahwa sepertinya kami akan telat. Pikiranku masih saja melayang tentang dirinya. Walaupun aku tidak begitu tenggelam di dalam lamunanku karena kakakku mengajakku bercerita tentang kisah film yang akan kami nonton. Kami sangat antusias karena mengetahui bahwa ternyata film Fantastic Beasts ini akan ada kelanjutannya. Kami juga berbincang panjang lebar tentang karya-karya J.K Rowling yang harusnya dibuat dalam bentuk film layar lebar. Tidak terasa akhirnya kami sampai di mall yang dituju. Kami melangkah dengan agak cepat masuk ke dalam mall dan segera berjalan menuju bioskop dengan harapan masih sempat menonton film pada jam tayang 12.30.

      "Aih, sudah jam setengah satu lewat, pasti filmnya sudah mulai. Tidak enak kalo tidak dinonton dari awal...", kata kakakku saat kami sampai di bioskop. Aku melihat jam di handphoneku-setelah memperhatikan keadaan sekitar karena rasa was-was luar biasa- dan ternyata memang jam tayangnya sudah mulai sejak 10 menit yang lalu. "Jadi?", aku bertanya singkat. "Beli yang jam satu saja. Kita tinggal menunggu setengah jam.", kata kakakku sambil berjalan ke loker pembelian tiket. Selagi kakakku membeli tiket, aku kembali memperhatikan keadaan bioskop yang sangat sepi. Jumlah orang yang ada di sana dapat di hitung jari; sepasang kekasih menunggu di dekat loker penjual snack sambil tertawa-tawa, dua perempuan duduk di sofa tempat menunggu, seorang laki-laki dengan baju kotak-kotak yang wajahnya tidak begitu jelas, serta beberapa orang lain yang tidak kuperhatikan, yang duduk menunggu di sofa. Aku hanya bisa melihat sekilas karena tidak ingin terlihat seperti sedang memperhatikan orang-orang tersebut. He's not here. Aku bernafas lega. Setelah kami mendapatkan tiket, kakakku menitip uang untuk membeli popcorn sementara dia ke toilet. Selesai membeli popcorn, aku duduk di salah tempat duduk yang terletak di depan loker penjual snack. Sembari menunggu, aku hanya bermain handphone. Setelah beberapa menit, kakakku kembali dari toilet dan duduk di sampingku. Ternyata keadaan bioskop sudah mulai ramai. Antrian pembeli tiket sudah lumayan panjang dan semakin banyak orang yang masuk. Suara seorang wanita terdengar di seluruh daerah biosokop yang mengumumkan bahwa studio 3 telah dibuka. Akhirnya.....Aku dan kakakku segera berjalan ke arah studio yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami menunggu. Saat ingin masuk ke arah studio, ada seorang laki-laki yang berdiri membelakangi pintu masuk studio dan sedang memandangi poster-poster film di tembok. Lelaki itu terlihat familiar bagiku, dan saat kuperhatikan, ternyata............................................. Dia. Dia adalah lelaki baju kotak-kotak yang tadi wajahnya tidak kulihat dengan jelas.

    Jantungku mulai berdetak lebih cepat dan aku melangkah agak cepat melambungi kakakku. Ternyata baru aku dan kakakku yang masuk ke studio. Ketika aku melirik ke arah pintu masuk, ternyata dia juga berada di studio yang sama denganku. It's gonna be so awkward..,batinku. Kakakku memilih tempat duduk di bagian paling atas sebelah kanan. Dari posisi itu aku bisa melihat semua orang yang masuk, tentu saja aku bisa melihatnya masuk, dan obviously, dia juga pasti bisa melihatku dari bawah saat masuk nanti. Tidak lama, dia pun muncul dan berjalan ke arah kursinya. Aku hanya bisa berpura-pura main handphone dan makan popcorn. Meskipun begitu, aku sesekali melirik ke arahnya dan ternyata dia juga melihatku saat ia baru duduk di kursinya. Secara spontan aku mengalihkan pandanganku seakan-akan dia itu bukan siapa-siapa. Kami hanya bertiga saat itu di dalam studio. Penonton yang lain belum masuk. Mungkin kakakku tidak merasakannya, tetapi aku benar-benar merasakan aura canggung di dalam studio, dan aku yakin dia juga pasti merasakannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, sehingga handphone menjadi sasaran empuk untuk mengalihkan perhatianku sembari menunggu film dimulai. Dari menit ke menit, penonton semakin memenuhi studio. Aku mencoba melirik ke arahnya lagi, dan ternyata dia juga sedang melirik ke arahku tetapi langsung mengalihkan pandangan ketika aku melihatnya. Aku menarik nafas secara perlahan untuk menenangkan diri karena sejak tadi jantungku berdetak cukup cepat. Beberapa menit kemudian, lampu studio dimatikan dan layar lebar mulai menampilkan gambar dan iklan-iklan sebelum film dimulai. Ketika film dimulai, aku berusaha fokus ke arah film walaupun aku masih terdorong untuk melirik ke arahnya. Inikah yang disebut rindu? Sudahlah,batinku. Aku harus menikmati film yang sudah lama kutunggu selama setahun. Sejak tahun lalu, pengunguman tentang film ini telah resmi dikeluarkan, sehingga aku benar-benar mempersiapkan diriku selama setahun dan telah berjanji bahwa aku harus menyempatkan diri menonton film ini langsung di bioskop. Aku sangat fokus menonton film yang sangat bagus ini. Masih penuh dengan sihir-sihir luar biasa, hewan-hewan dunia sihir yang menjadi fokus utama, dan tentu saja selipan-selipan lelucon di beberapa dialog. Rowling benar-benar sukses dalam membangun dunia sihirnya sendiri. Film yang luar biasa ini ditutup dengan Newt Scamander melepas Thunderbird, seekor burung yang sangat besar dari Arizona, ke langit.

     Saat lampu studio kembali dinyalakan, aku dan kakakku segera berdiri karena kami lelah terlalu  lama duduk. Aku melirik sekali lagi ke arahnya, dia tidak melihatku, dan aku tersenyum. Aku senang masih bisa melihatmu lagi, walaupun sangat singkat dan dengan cara yang sederhana. Aku langsung berjalan ke arah pintu exit dan segera menuju ke toilet karena aku sudah kebelet sejak pertengahan film tetapi tidak ingin kelewatan sedikitpun dari film itu.


Seandainya kamu membaca ini, -tapi sepertinya tidak mungkin-, ketahuilah bahwa aku sangat bahagia diberikan waktu yang singkat oleh Tuhan untuk melihatmu sekali lagi. Kamu harus tau, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.

DnTRY. 


2nd part ==> Fatamorgana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar